Tahun-tahun gelap dan kacau Perang Dunia II menjadi lahan subur bagi beberapa penjahat paling terkenal dalam sejarah. Di tengah latar belakang pendudukan Nazi, gerakan perlawanan, dan penderitaan yang meluas, satu sosok muncul sebagai perwujudan kejahatan yang sangat mengerikan: Marcel Petiot, yang terkenal sebagai **Dr. Satan**. Seorang dokter karismatik yang berubah menjadi pembunuh berantai, Petiot memanfaatkan keputusasaan dan ketakutan Paris di masa perang untuk melakukan kejahatan keji yang mengejutkan dunia. Kisahnya adalah kisah mengerikan tentang penipuan, keserakahan, dan pembunuhan, yang mengungkap kedalaman kebejatan manusia selama salah satu periode tergelap abad ke-20.
Kehidupan Awal Marcel Petiot
Marcel André Henri Félix Petiot lahir pada 17 Januari 1897 di Auxerre, Prancis. Sejak usia dini, ia menunjukkan tanda-tanda kecerdasan dan ambisi, tetapi juga perilaku yang mengkhawatirkan. Sebagai seorang anak, ia dikenal karena kekejamannya terhadap hewan dan kecenderungannya untuk berbohong. Terlepas dari tanda-tanda peringatan ini, Petiot unggul secara akademis dan akhirnya mengejar karier di bidang kedokteran. Ia bertugas sebagai tentara selama Perang Dunia I, di mana ia terluka dan kemudian dituduh mencuri dari rekan-rekan tentaranya. Pola penipuan dan oportunisme ini akan menentukan hidupnya.
Setelah perang, Petiot menyelesaikan studi kedokterannya dan mulai berpraktik sebagai dokter di kota kecil Villeneuve-sur-Yonne. Namun, kariernya ternoda oleh tuduhan penipuan, pencurian, dan bahkan pembunuhan. Ia dituduh meracuni pasien dan mencuri harta benda mereka, meskipun ia berhasil menghindari konsekuensi serius berkat kecerdikan dan pesonanya. Pada tahun 1930-an, Petiot pindah ke Paris, di mana ia mendirikan praktik kedokteran dan mulai membangun reputasi sebagai dokter yang terampil dan penuh kasih sayang.
Kebangkitan Dr. Satan
Ketika Perang Dunia II pecah dan Nazi Jerman menduduki Prancis pada tahun 1940, Paris menjadi kota yang diliputi ketakutan dan keputusasaan. Orang Yahudi, pejuang perlawanan, dan orang lain yang menjadi sasaran Nazi mencari cara untuk melarikan diri dari negara itu. Dalam iklim teror inilah Marcel Petiot melihat peluang untuk mengeksploitasi orang-orang yang rentan.
Petiot mulai menyamar sebagai anggota Perlawanan Prancis, menawarkan bantuan kepada orang-orang untuk melarikan diri dari Prancis yang diduduki. Ia mengklaim memiliki koneksi dengan jaringan rahasia yang dapat menyelundupkan individu ke tempat aman di Argentina atau negara-negara netral lainnya. Para korbannya, yang sebagian besar adalah orang Yahudi atau pembangkang politik, membayar sejumlah uang yang sangat besar untuk jasanya, karena percaya bahwa mereka sedang mengamankan kebebasan mereka.
Namun, janji-janji Petiot hanyalah tipu daya mematikan. Ia memikat korbannya ke rumahnya di 21 Rue Le Sueur, sebuah rumah mewah di distrik ke-16 Paris yang makmur. Di sana, ia mengatakan kepada mereka bahwa mereka perlu menjalani pemeriksaan medis dan vaksinasi sebelum perjalanan mereka. Namun, ia malah menyuntik mereka dengan sianida atau zat mematikan lainnya, membunuh mereka hampir seketika.
Namun, aktivitas Petiot yang paling menguntungkan adalah jalur pelarian palsunya sendiri, Fly-Tox. Ia menggunakan “nama sandi” “Dr. Eugène.” Ia menerima siapa pun yang mampu membayar harganya sebesar 25.000 Franc per orang, tanpa memandang apakah mereka Yahudi, pejuang perlawanan, atau penjahat biasa. Para pembantunya, Raoul Fourrier, Edmond Pintard, dan René-Gustave Nézondet, mengarahkan para korban ke tangannya.
Petiot mengklaim bahwa ia dapat mengatur perjalanan aman ke Argentina atau tempat lain di Amerika Selatan melalui Portugal. Ia juga mengklaim bahwa pejabat Argentina menuntut imunisasi dan menyuntik korbannya dengan sianida. Kemudian ia mengambil semua barang berharga mereka dan membuang mayat-mayat tersebut. Orang-orang yang mempercayainya untuk mengantarkan mereka ke tempat aman tidak pernah terlihat hidup lagi.
Awalnya Petiot membuang mayat-mayat itu ke Sungai Seine, tetapi kemudian ia memusnahkan mayat-mayat tersebut dengan merendamnya dalam kapur atau dengan membakarnya. Pada tahun 1941, Petiot membeli sebuah rumah di 21 rue le Sueur.
Yang gagal dilakukan Petiot adalah menjaga agar dirinya tidak terlalu mencolok. Gestapo akhirnya mengetahui keberadaannya dan, pada April 1943, mereka telah mendengar semua tentang “rute” yang dilaluinya. Agen Gestapo Robert Jodkum memaksa tahanan Yvan Dreyfus untuk mendekati jaringan yang diduga tersebut, tetapi ia malah menghilang begitu saja.
Seorang informan kemudian berhasil menyusup ke dalam operasi tersebut dan Gestapo menangkap Fourrier, Pintard, dan Nézondet. Di bawah siksaan, mereka mengaku bahwa “Dr. Eugène” adalah Marcel Petiot. Nezondet kemudian dibebaskan, tetapi tiga orang lainnya menghabiskan delapan bulan di penjara karena dicurigai membantu orang Yahudi melarikan diri. Bahkan di bawah siksaan, mereka tidak menyebutkan anggota perlawanan lainnya – karena mereka memang tidak mengenal siapa pun. Gestapo membebaskan ketiga pria itu pada Januari 1944.
Rumah Horor.
Skala sebenarnya dari kejahatan Petiot terungkap pada Maret 1944, ketika tetangga melaporkan bau busuk yang berasal dari rumahnya. Petugas pemadam kebakaran dipanggil untuk menyelidiki, dan apa yang mereka temukan sungguh mengerikan.
Di ruang bawah tanah rumah tersebut, pihak berwenang menemukan sebuah ruangan tersembunyi yang berisi kapur tohor, yang digunakan untuk mempercepat pembusukan mayat. Sisa-sisa setidaknya 27 korban ditemukan, banyak di antaranya dimutilasi dan dibakar. Pemandangan itu begitu mengerikan sehingga butuh waktu berminggu-minggu untuk mengidentifikasi para korban, dan beberapa mayat tidak pernah sepenuhnya ditemukan.
Investigasi mengungkapkan bahwa Petiot telah merencanakan pembunuhannya dengan sangat teliti. Ia menggunakan pengetahuan medisnya untuk membuang mayat secara efisien, seringkali memutilasi tubuh korban dan membakar sisa-sisanya di dalam tungku besar. Ia juga menyimpan catatan rinci tentang barang-barang milik korbannya, yang kemudian ia jual atau simpan untuk dirinya sendiri. Di antara barang-barang yang ditemukan di rumahnya adalah perhiasan, pakaian, dan bahkan gigi manusia yang diisi emas.
Sisi Gelap Kejahatan Dr. Satan: Pencabulan dan Pelecehan
Meskipun pembunuhan yang dilakukan Marcel Petiot adalah aspek kejahatannya yang paling terdokumentasi dengan baik, ada bukti yang menunjukkan bahwa kebejatan moralnya meluas melampaui pembunuhan. Laporan dan kesaksian dari penyelidikan atas aktivitasnya mengisyaratkan kemungkinan bahwa Petiot mungkin telah melakukan **pelecehan seksual, pencabulan, atau bentuk penyiksaan fisik dan psikologis lainnya** terhadap beberapa korbannya sebelum kematian mereka. Tuduhan-tuduhan ini, meskipun kurang terdokumentasi secara menyeluruh daripada pembunuhannya, melukiskan gambaran yang lebih mengerikan tentang seorang pria yang menikmati penderitaan orang lain.
Sifat Tuduhan
Selama penyelidikan atas kejahatan Petiot, pihak berwenang menemukan detail yang mengganggu tentang metodenya. Beberapa korban dilaporkan dilucuti pakaiannya sebelum dibunuh, dan ada tanda-tanda bahwa Petiot mungkin telah melakukan tindakan **kekerasan seksual** atau penghinaan. Meskipun ilmu forensik pada tahun 1940-an tidak semaju sekarang, kondisi beberapa mayat menunjukkan bahwa mereka telah mengalami **perlakuan yang merendahkan martabat** sebelum kematian mereka.
Selain itu, latar belakang Petiot sebagai seorang dokter memberinya posisi kepercayaan dan otoritas, yang mungkin ia manfaatkan untuk memanipulasi dan menyalahgunakan korbannya. Praktik medisnya memberinya akses kepada individu-individu yang rentan, termasuk perempuan dan anak muda, yang dapat ia isolasi dan kendalikan. Beberapa korban selamat dari rencana jahatnya, yang berhasil melarikan diri sebelum menjadi korban dari rencana pembunuhannya, kemudian menceritakan perasaan tidak nyaman atau dilecehkan di hadapannya, meskipun mereka tidak selalu dapat menjelaskan alasannya.
Penyiksaan dan Manipulasi Psikologis
Di luar kekerasan fisik, Petiot adalah ahli manipulasi psikologis. Dia memanfaatkan ketakutan dan keputusasaan para korbannya, yang sebagian besar sudah trauma akibat kengerian perang dan penganiayaan Nazi. Dengan berpura-pura sebagai pahlawan Perlawanan, ia mendapatkan kepercayaan mereka, hanya untuk mengkhianati mereka dengan cara yang paling mengerikan.
Bagi sebagian korban, siksaan psikologis mungkin sama menghancurkannya dengan kekerasan fisik apa pun. Petiot dilaporkan senang mengejek korbannya, membuat mereka percaya bahwa mereka hanya tinggal beberapa saat lagi menuju kebebasan sebelum mengungkapkan sifat sebenarnya dari nasib mereka. Permainan psikologis yang kejam ini menambah lapisan penderitaan ekstra pada kejahatannya, menjadikannya bukan hanya seorang pembunuh, tetapi juga seorang sadis yang mendapatkan kesenangan dari penderitaan orang lain.
Kisah Para Korban
Di antara korban Petiot terdapat perempuan dan anak muda yang mungkin menjadi sasaran bukan hanya karena kekayaan atau koneksi mereka, tetapi juga karena kerentanan mereka. Salah satu kisah yang sangat mengerikan melibatkan seorang wanita muda yang meminta bantuan Petiot untuk melarikan diri dari Paris. Menurut kesaksian, ia terakhir terlihat memasuki rumah Petiot, di mana ia diduga mengalami **pelecehan seksual** sebelum dibunuh. Meskipun bukti konkret atas tindakan tersebut langka karena sifat investigasi yang kacau dan penghancuran bukti oleh Petiot sendiri, pola perilakunya menunjukkan bahwa kejahatan ini berada dalam ranah kemungkinan.
Korban lainnya, seorang remaja laki-laki yang melarikan diri dari penganiayaan Nazi, dilaporkan dipancing ke rumah Petiot dengan janji akan mendapatkan jalan aman keluar dari Prancis. Saksi kemudian mengingat mendengar teriakan yang berasal dari rumah tersebut, meskipun mereka terlalu takut untuk ikut campur. Jasad anak laki-laki itu tidak pernah diidentifikasi di antara sisa-sisa jenazah yang ditemukan di Rue Le Sueur, tetapi hilangnya dia tetap menjadi pengingat yang mengerikan tentang potensi pelecehan dalam kejahatan Petiot.
Perburuan dan Persidangan
Pada saat pihak berwenang mengungkap kengerian di Rue Le Sueur, Petiot telah melarikan diri. Ia bersembunyi, menggunakan berbagai nama samaran dan penyamaran untuk menghindari penangkapan. Selama beberapa bulan, ia berhasil selangkah lebih maju dari polisi, bahkan bergabung dengan Perlawanan Prancis dengan nama palsu untuk lebih menyembunyikan identitasnya.
Petiot akhirnya ditangkap pada Oktober 1944, setelah dikenali oleh seorang mantan pasiennya. Persidangannya dimulai pada Maret 1946 dan menjadi sensasi media, menimbulkan perbandingan dengan legenda Bluebeard yang terkenal. Petiot, yang selalu pandai beretorika, menggunakan persidangan itu sebagai kesempatan untuk menggambarkan dirinya sebagai pahlawan Perlawanan, mengklaim bahwa para korbannya adalah kolaborator dan pengkhianat Nazi. Namun, bukti yang memberatkan dirinya sangat kuat, dan pembelaannya dengan cepat terbongkar.
Pada tanggal 25 Mei 1946, Marcel Petiot dinyatakan bersalah atas 26 pembunuhan dan dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi dengan guillotine pada tanggal 25 Mei 1946, pada usia 49 tahun.
Warisan Dr. Satan:
Kejahatan Marcel Petiot tetap menjadi salah satu bab paling mengerikan dalam sejarah pembunuhan berantai. Kemampuannya untuk mengeksploitasi keputusasaan Paris di masa perang, dikombinasikan dengan keahlian medis dan kelicikannya, menjadikannya sosok yang sangat menakutkan. Perkiraan jumlah total korbannya berkisar antara 27 hingga lebih dari 60, meskipun jumlah pastinya mungkin tidak akan pernah diketahui.
Tuduhan pelecehan dan kekerasan menambah dimensi yang sangat mengganggu pada warisan Petiot. Meskipun pembunuhan yang dilakukannya saja sudah cukup untuk mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pembunuh berantai paling menakutkan dalam sejarah, kemungkinan bahwa ia juga terlibat dalam kekerasan seksual menggarisbawahi kebejatan tindakannya.
Kisah Petiot telah menginspirasi banyak buku, film, dan dokumenter, mengukuhkan tempatnya dalam sejarah kejahatan nyata. Julukannya, “Dr. Satan,” menggambarkan esensi kejahatannya: seorang pria yang menggunakan kecerdasan dan pesonanya untuk memangsa orang-orang yang rentan, meninggalkan jejak kematian dan kehancuran di belakangnya.
Layanan streaming film online
Kesimpulan
Kasus Marcel Petiot menjadi pengingat suram tentang kegelapan yang dapat muncul di masa kekacauan dan keputusasaan. Kasus ini juga menyoroti pentingnya kewaspadaan dan keadilan, bahkan di hadapan kejahatan yang luar biasa. Dr. Satan mungkin telah tiada, tetapi warisannya terus menghantui ingatan kolektif dunia yang menyaksikan kengerian perang dan monster-monster yang diciptakannya.
Kejahatan Petiot—baik pembunuhan maupun dugaan pelecehan terhadap para korbannya—menjadi bukti betapa rendahnya kebejatan manusia. Kisahnya merupakan pengingat yang mengerikan bahwa kejahatan seringkali berkedok normalitas, dan bahwa monster yang paling menakutkan adalah mereka yang berjalan di antara kita, tersembunyi di depan mata.